Mengasah kreatifitas dengan Bermain rancang bangun
By: Siti Nur Asyiah, S.Pd.I

Bermain merupakan sarana bagi anak untuk mengungkapkan kreatifitasnya. Melalui bermain, anak dapat menganalisis berbagai situasi atau benda dan mencoba menemukan cara baru untuk menatanya kembali. Misalnya, saat bermain bongkar pasang dengan balok, anak bisa membuat bentuk mercusuar kemudian dibongkar, lalu membuat gedung perkantoran, membentuk miniatur rumahnya sendiri atau membangun kebun binatang. Bermain juga merupakan sarana bagi anak untuk berfantasi, berimajinasi, yang akan membantunya menemukan gagasan baru.

Anak juga dapat menjalin hubungan baru dengan teman-temannya yang semula ia tidak kenal dan tidak akrab menjadi lebih dekat. Mutiara Anak soleh merupakan tempat yang tepat dalam mencetak anak-anak soleh yang kreatif dan mandiri. Melalui kurikulum yang menarik dan menyenangkan, ahirnya siswa selalu enjoi dalam menerima setiap materi yang diberikan.

Guru dan Oang Tua memegang peranan penting dalam proses kreatif saat anak-anak bermain. Guru dan Oang Tua diharapkan mempunyai kepekaan yang tinggi untuk tidak membuat anak-anak ngambek ditengah-tengah proses kreatif mereka. Guru dan Oang Tua semestinya faham kapan saatnya membiarkan pembelajaran kreatifitas tetap berjalan dan bagaimana menjaga supaya pemikiran dan gagasan anak tetap lancar mengalir.

Berikut ini ada beberapa kiat-kiat yang dapat digunakan untuk memotivasi proses kreatif pada anak.

  1. Guru dan Oang Tua perlu menanggapi dan menghargai setiap pertanyaan anak meskipun pertanyaan tersebut aneh, unik atau tidak lazim
  2. Guru dan Oang Tua perlu mengembangkan kesempatan bagi anak untuk melakukan berbagai kegiatan dengan inisiatif sendiri.
  3. Anak-anak perlu tau bahwa gagasan-gagasan mereka menarik dan bernilai.
  4. Guru dan Oang Tua perlu belajar untuk tidak terkaget-kaget dengan solusi atau gagasan yang tidak lazim yang dikemukakan anak
  5. Anak semestinya dapat melakukan pemikiran kreatif dalam suasana bebas hukum.
  6. Guru dan Oang Tua perlu memahami betul bahwa proses kreatif yang ada dalam pikiran anak lebih penting dari pada kegiatan yang harus dilakukan anak.
  7. Kreatifitas tidak hanya milik artis atau seniman.
  8. Kadang pengarahan tertentu dari Guru dan Oang Tua akan memotivasi anak untuk meninjau ulang gagasannya, apakah ada yang perlu diubah atau tetap seperti semula.
  9. Guru dan Oang Tua selayaknya menghindari penilaian yang terlalu dini terhadap gagasan baru dari anak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − 3 =